“Ini Cabaiku, Itu Cabaiku, Cabaimu Milikku”: Drama Rebutan Sambal di Balik Polemik KKN Ketahanan Pangan Mekarbaru
Polemik (KKN) Program Ketahanan Pangan di Desa Mekarbaru, aktivis di Kecamatan Petir, mengadakan Ngobrol Santai dengan
Mengusung tema yang terdengar seperti lirik lagu galau: Ini Cabai Ku, Itu Cabai Ku, Cabai Mu Milikku, pada Selasa 12 Mei 2026. ini berubah menjadi panggung klaim-mengklaim yang cukup dramatis
Suasana di lingkup Petir mendadak "pedas" tapi bikin geli. Bukan karena ada lomba makan sambal, melainkan akibat diskusi santai para aktivis yang membahas dugaan polemik (KKN) Program Ketahanan Pangan di Desa Mekar Baru.
Drama Klaim Si Merah!
Deden, aktivis kawakan pemerhati kebijakan pemerintah di Kecamatan Petir, mengawali diskusi dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah data program. "Jangan ada yang mengaku-ngaku! Ini cabaiku! Hasil pengawasan kami menunjukkan ada yang tidak beres dalam distribusinya," serunya tegas.
Tak mau kalah, Repiana yang mewakili barisan Aktivis Serang Selatan langsung menyambar. Dengan gaya retoris nya, ia menimpali, "Maaf Kang Deden, tapi faktanya itu cabaiku juga! Kami di Serang Selatan juga punya catatan merah soal ini. Jangan-jangan cabai kita semua memang sudah 'dipetik' pihak lain sebelum waktunya!"
Aksi saling klaim kepemilikan cabai program ketahanan pangan ini sekilas tampak seperti rebutan mainan di taman kanak-kanak, padahal yang sedang dibahas adalah urusan perut rakyat dan transparansi anggaran desa.
Menyaksikan debat "pedas" antara Deden dan Repiana, Sukra yang juga aktivis pemerhati kebijakan hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul. Alih-alih ikut panas, Sukra memberikan tanggapan yang mendinginkan suasana namun tetap menohok secara elegan.
“Kalau Deden bilang itu cabainya, dan Repiana bilang itu juga cabainya, saya khawatir nanti sambalnya malah habis buat debat saja, tapi rakyatnya nggak kebagian icip-icip,” seloroh Sukra sambil tertawa.
lebih lanjut ia menambahkan bahwa fenomena saling klaim ini adalah cerminan betapa karut-marutnya pengelolaan program di lapangan. "Lucu sebenarnya, kita sibuk bilang 'ini punya saya' di saat transparansi program masih abu-abu. Harusnya temanya ditambah 'Cabai Kita Milik Siapa atau 'Mana cabainya?' biar jelas nasib anggaran ketahanan pangannya lari ke mana," pungkasnya elegan.
filosofi "Cabaimu Milikku" jangan sampai menjadi kenyataan dalam bentuk praktik KKN, di mana hak masyarakat justru "diakui" oleh oknum-oknum tertentu. biarlah cabai tetap menjadi cabai, yang penting pedasnya pengawasan tetap harus konsisten agar program ketahanan pangan tidak berakhir menjadi "ketahanan pertemanan" semata sehingga bibit yang ditanam benar-benar tumbuh di tanah petani, bukan tumbuh di kantong pribadi
Diskusi ini berakhir dengan kesepakatan tidak tertulis Bahwa siapa pun yang mengklaim cabai tersebut, transparansi harus tetap menjadi bumbu utama agar laporan pertanggungjawaban tidak "gosong" saat diperiksa nanti, sementara polemik "sambal" masalah ini semakin membakar kepercayaan masyarakat.

No comments